Selasa, 31 Januari 2012

Para Ahli Kembangkan Kulit Anti-Peluru

Percampuran kulit manusia dengan sutra laba-laba kini dapat direkayasa untuk menahan serangan peluru. Temuan baru ini disampaikan oleh peneliti dari Belanda, dengan sedikit bantuan dari modifikasi genetik terhadap kambing.

Seperti dikutip dari laman Daily Mail, modifikasi kulit manusia dengan susu kambing (dari kambing hasil rekayasa genetika), dapat menghasilkan protein yang sama seperti yang terdapat di jaring laba-laba sutra. Kekuatan jaring yang dibuat laba-laba sutra memang empat kali lebih kuat dari Kevlar, materi yang digunakan dalam pembuatan rompi anti-peluru.

'Sutra' tersebut lalu dilapisi kulit manusia dewasa yang direkayasa secara bio-engineering dalam sebuah laboratorium, untuk dapat menahan peluru dari sebuah tembakan langsung, meski tidak dalam kecepatan penuh.

“Dalam cuplikan video (hasil penelitian), peluru ditembakkan ke kulit hasil rekayasa itu dalam setengah kecepatan. Tapi daya tahannya terbatas, saat ditembakkan pada kecepatan penuh 329 meter per detik, material butiran peluru itu menembus kulit,” tulis New Scientist.

Peneliti Belanda, Jalila Essaidi yang bekerja di Konsorsium Forensik Genetik Belanda, mengatakan proyek sutra laba-laba dinamakan "2,6 gram 329 meter per detik", mengambil berat dan kecepatan peluru yang ditembakkan dari laras panjang kaliber 22. Essaidi mengatakan tujuan percobaan ini adalah untuk mengganti keratin dalam kulit manusia dengan sutra laba-laba.

Sutra tersebut diproduksi di Utah, kemudian dipintal menjadi benang di Korea, selanjutnya ditenun menjadi lapisan seperti kain di Jerman. Tahap terakhir juga melibatkan pertumbuhan sebuah lapisan dari kulit di sekeliling kulit rompi antipeluru yang diambil selama lima pekan.

Ia mengatakan bahwa proyek ini membuat fiksi ilmiah menjadi seperti kenyataan. Sebelumnya, dalam sejarah tercatat bahwa sutra juga pernah digunakan oleh pasukan berkudanya Jenghis Khan.

“Bayangkan sebuah rompi dari laba-laba sutra, mampu menangkap peluru. Di masa kini, itu sama seperti anti-panah yang dimiliki pasukan Jenghis Khan,” ucap Essaidi.
 
“Mari kita tunggu tahapan berikutnya, kenapa bersusah-payah dengan sebuah rompi: bayangkan ini menggantikan keratin, protein yang memungkinkan memiliki ketangguhan kulit manusia sama seperti protein sutra laba-laba," lanjutnya. “Hal ini dimungikinkan dengan menambahkan gen penghasil sutra laba-laba ke genom manusia untuk menciptakan manusia anti-peluru.”

Meski masih dianggap sebagai sains semu, Essaidi menyebut ide ini menjadi perintis untuk menghasilkan kulit seperti yang dimiliki Superman, Manusia Baja yang anti-peluru.

Rahasia "Jubah Gaib" Harry Potter Terungkap



Albert Einstein dalam teori relativitas pernah mengatakan gravitasi menyebabkan waktu berjalan pelan. Para ahli fisika pun telah berusaha mengungkap teori ini untuk menjelaskan "jubah tak tampak", ala cerita di Harry Potter.
Ahli fisika melakukannya dengan berusaha memindahkan cahaya di sebuah daerah ke dalam sebuah ruangan, dan secara efektif menyembunyikan setiap objek yang ada di dalamnya.

Peneliti di Universitas Cornell pun telah memperlihatkan jubah tak tampak itu untuk pertama kalinya. Caranya, dengan perangkat yang mengaburkan sebuah objek dalam titik dan waktu tertentu dalam ruangan, dengan 'permainan' cahaya.

Ilmuwan telah menemukan cara baru menghentikan waktu secara keseluruhan. Bahkan meninggalkan waktu, juga menampilkan waktu yang dihentikan dengan membelokkan cahaya untuk menciptakan lubang dalam suatu waktu.
Dalam sebuah percobaan, para peneliti dari Universitas Cornell, Moti Fridman dan kolega, menyinari sebuah tembakan laser dengan menggunakan peralatan eksperimental ke sebuah detektor. Obyek fisik atau bahkan tembakan cahaya di jalur tembakan laser itu bisa menyebabkan perubahan yang akan tercatat di detektor tersebut.
Kemudian dengan beberapa peralatan optik canggih, Fridman dan koleganya mampu mengungkap sebuah celah waktu singkat dalam tembakan laser, yang kemudian menutup kembali, seolah balok itu menghilang, namun masih tercatat detektor.

Celah itu memungkinkan sesuatu yang telah mempengaruhi perubahan tembakan laser itu menyelinap dengan tepat, tanpa meninggalkan jejak dalam detektor.

Para peneliti lalu menggunakan jubah mengaburkan nadi optik yang biasanya berinteraksi dengan tembakan laser untuk memproduksi sebuah tanda lonjakan pada panjang gelombang tertentu. Saat waktu itu "berjubah", terlihat bahwa tanda lonjakan pada dasarnya tidak terdeteksi.

Jubah itu bergantung pada fakta perbedaan warna cahaya bergerak pada kecepatan yang berbeda melalui suatu media. Menggunakan perangkat yang mereka sebut ‘time lens’, peneliti memisahkan tembakan laser dengan warna tunggal ke dalam sebaran gelombang cahaya, kemudian memperlambat setengah panjang gelombang saat kecepatan yang lain meningkat.

Ini menciptakan celah waktu yang sangat singkat dan dapat ditutup lagi sebelum balok mencapai detektor dengan membalik proses pelensaan,  memulihkan balok dengan panjang gelombang tunggal, yang tampaknya tidak terganggu panjang gelombang.

Celah yang didapat oleh Fridman sangat kecil, hanya 50 picodetik atau 50 trilyun detik per durasi. Peneliti memberitahukan bahwa hal ini memungkinkan untuk memperpanjang celah, tapi efek hamburan dan dispersi membatasi lingkup jubah temporal selama beberapa nanodetik.

Rabu, 11 Januari 2012

Motivasi / Motto -RD-

#Engkau disebut dewasa dan mapan jika engkau mampu tersenyum menerima perendahan dari orang                   lain.




#Diam dan tak melawan bukan berarti kamu lemah. Justru dengan begitu kamu bisa menunjukkan siapa yang lebih dewasa,bukan BOCAH:)